Bursa saham Asia, Eropa dan AS kompak melemah dalam sepekan terakhir. Inilah sentimen-sentimen yang mempengaruhinya.
Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, indeks saham Asia tercatat melemah sepanjang pekan ini. “Beberapa sentimen yang mempengaruhi antara lain, penguatan saham-saham utilitas Jepang di awal pekan dengan sentimen rencana akan diaktifkannya kembali pembangkit nuklir dan permintaan impor gas kepada beberapa perusahaan di AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.
Lalu, imbas rilis kenaikan consumer confidence dan leading indicator di AS; penguatan sahamsaham sekuritas terkait prospek meningkatnya volume perdagangan ke depannya dan termasuk sahamsaham pengembang dan properti terkait sentimen kemudahan perizinan yang akan dikeluarkan pemerintah;
Di sisi lain, terjadi pelemahan saham-saham keuangan setelah Goldman Sachs Group melepas posisi pada saham ICBC Ltd senilai US$1,1 miliar; hasil Rerserve Bank of Australia (RBA) meeting yang menunjukkan business & consumer confidence Australia masih melemah; dan penurunan trade balance Jepang yang mana nilai impornya naik sehingga dipersepsikan terjadinya peningkatan permintaan.
Hal ini seiring dengan rencana Bank of Japan (BoJ) untuk tetap memperpanjang stimulusnya agar terjadi kenaikan consumer spending di dalam negerinya. Selain itu, adanya hujan badai juga sempat mengganggu laju Shanghai dan Hang Seng Index (HSI) sehingga saham-saham teknologi dan utilitas melemah.
Tidak hanya itu semua, hasil Federal Open Market Committee (FOMC) meeting, kenaikan nilai tukar yen Jepang; dan adanya rilis awal akan melemahnya indeks manufaktur China ikut mempengaruhi laju bursa saham Asia.
Sementara itu, sentimen negatif juga membuat bursa saham Eropa terjatuh. Padahal di awal pekan sempat positif seiring dengan kenaikan saham-saham otomotif setelah Morgan Stanley meng-upgrade valuasi para produsen otomotif.
Sentimen positif lainnya, antara lain, masih adanya rilis kinerja emiten sektor lainnya yang di atas estimasi; kenaikan current account Italia, dan trade balance Spanyol; dan respons positif terhadap komentar Kepala The Fed St. Louis, James Bullard, bahwa The Fed seharusnya masih meneruskan program pembelian obligasinya hingga perekonomian AS benar-benar pulih.
Penguatan masih berlanjut dengan sentimen positif tambahan dari rilis kenaikan current account zona euro, trade balance Yunani, dan retail sales Inggris. Tetapi, adanya pelemahan bursa saham Asia dan menanggapi negatif pertemuan FOMC The Fed yang berencana mengurangi program stimulusnya jika perekonomian AS dinilai berangsur pulih serta adanya rilis awal (preliminary report) manufaktur China yang masih mengalami kontraksi membalikkan kondisi. Karena itu, bursa saham Eropa terkoreksi.
Adanya sentimen negatif tersebut menutupi sentimen positif dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris dan indeks manufaktur di sejumlah wilayah zona euro.
Begitu juga dengan bursa saham AS yang gagal melanjutkan laju penguatan seperti pekan sebelumnya setelah pelaku pasar bersikap skeptis dengan mempertimbangkan laju stimulus pascabeberapa petinggi The Fed yang berencana akan mengajukan percepatan penarikan stimulus dalam pertemuan FOMC pada pekan kemarin.
Hal tersebut juga dipertegas dengan pernyataan Gubernur The Fed Ben Bernanke bahwa The Fed akan mempertimbangkan penarikan bond buying program-nya secara bertahap bila perekonomian AS berangsur pulih.
“Padahal terdapat sejumlah sentimen positif seperti banyaknya kesepakatan merjer dan akuisisi yang tercapai di awal pekan; apresiasi sahamsaham energi seiring dengan reboundnya harga jual BBM di AS; adanya komentar Kepala The Fed St Louis yang sedikit berbeda dengan petinggi The Fed lainnya, yang pro kelanjutan stimulus,” tuturnya.
Belum lagi dengan penilaian Goldman Sachs Group Inc. yang memperkirakan indeks S&P500 akan melaju ke level 1.750 di akhir 2013 dan 1.900 di akhir 2014 seiring dengan meningkatnya valuasi emiten; rilis peningkatan existing home sales; penurunan klaim pengangguran; dan kenaikan new home sales. “Tampaknya pelaku pasar lebih merespons komentar The Fed yang berencana mengurangi pembelian obligasi dibandingkan menanggapi sejumlah rilis data positif tersebut sehingga setiap ada rilis data-data positif langsung ditanggapi negatif,” imbuhnya.
Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, indeks saham Asia tercatat melemah sepanjang pekan ini. “Beberapa sentimen yang mempengaruhi antara lain, penguatan saham-saham utilitas Jepang di awal pekan dengan sentimen rencana akan diaktifkannya kembali pembangkit nuklir dan permintaan impor gas kepada beberapa perusahaan di AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.
Lalu, imbas rilis kenaikan consumer confidence dan leading indicator di AS; penguatan sahamsaham sekuritas terkait prospek meningkatnya volume perdagangan ke depannya dan termasuk sahamsaham pengembang dan properti terkait sentimen kemudahan perizinan yang akan dikeluarkan pemerintah;
Di sisi lain, terjadi pelemahan saham-saham keuangan setelah Goldman Sachs Group melepas posisi pada saham ICBC Ltd senilai US$1,1 miliar; hasil Rerserve Bank of Australia (RBA) meeting yang menunjukkan business & consumer confidence Australia masih melemah; dan penurunan trade balance Jepang yang mana nilai impornya naik sehingga dipersepsikan terjadinya peningkatan permintaan.
Hal ini seiring dengan rencana Bank of Japan (BoJ) untuk tetap memperpanjang stimulusnya agar terjadi kenaikan consumer spending di dalam negerinya. Selain itu, adanya hujan badai juga sempat mengganggu laju Shanghai dan Hang Seng Index (HSI) sehingga saham-saham teknologi dan utilitas melemah.
Tidak hanya itu semua, hasil Federal Open Market Committee (FOMC) meeting, kenaikan nilai tukar yen Jepang; dan adanya rilis awal akan melemahnya indeks manufaktur China ikut mempengaruhi laju bursa saham Asia.
Sementara itu, sentimen negatif juga membuat bursa saham Eropa terjatuh. Padahal di awal pekan sempat positif seiring dengan kenaikan saham-saham otomotif setelah Morgan Stanley meng-upgrade valuasi para produsen otomotif.
Sentimen positif lainnya, antara lain, masih adanya rilis kinerja emiten sektor lainnya yang di atas estimasi; kenaikan current account Italia, dan trade balance Spanyol; dan respons positif terhadap komentar Kepala The Fed St. Louis, James Bullard, bahwa The Fed seharusnya masih meneruskan program pembelian obligasinya hingga perekonomian AS benar-benar pulih.
Penguatan masih berlanjut dengan sentimen positif tambahan dari rilis kenaikan current account zona euro, trade balance Yunani, dan retail sales Inggris. Tetapi, adanya pelemahan bursa saham Asia dan menanggapi negatif pertemuan FOMC The Fed yang berencana mengurangi program stimulusnya jika perekonomian AS dinilai berangsur pulih serta adanya rilis awal (preliminary report) manufaktur China yang masih mengalami kontraksi membalikkan kondisi. Karena itu, bursa saham Eropa terkoreksi.
Adanya sentimen negatif tersebut menutupi sentimen positif dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris dan indeks manufaktur di sejumlah wilayah zona euro.
Begitu juga dengan bursa saham AS yang gagal melanjutkan laju penguatan seperti pekan sebelumnya setelah pelaku pasar bersikap skeptis dengan mempertimbangkan laju stimulus pascabeberapa petinggi The Fed yang berencana akan mengajukan percepatan penarikan stimulus dalam pertemuan FOMC pada pekan kemarin.
Hal tersebut juga dipertegas dengan pernyataan Gubernur The Fed Ben Bernanke bahwa The Fed akan mempertimbangkan penarikan bond buying program-nya secara bertahap bila perekonomian AS berangsur pulih.
“Padahal terdapat sejumlah sentimen positif seperti banyaknya kesepakatan merjer dan akuisisi yang tercapai di awal pekan; apresiasi sahamsaham energi seiring dengan reboundnya harga jual BBM di AS; adanya komentar Kepala The Fed St Louis yang sedikit berbeda dengan petinggi The Fed lainnya, yang pro kelanjutan stimulus,” tuturnya.
Belum lagi dengan penilaian Goldman Sachs Group Inc. yang memperkirakan indeks S&P500 akan melaju ke level 1.750 di akhir 2013 dan 1.900 di akhir 2014 seiring dengan meningkatnya valuasi emiten; rilis peningkatan existing home sales; penurunan klaim pengangguran; dan kenaikan new home sales. “Tampaknya pelaku pasar lebih merespons komentar The Fed yang berencana mengurangi pembelian obligasi dibandingkan menanggapi sejumlah rilis data positif tersebut sehingga setiap ada rilis data-data positif langsung ditanggapi negatif,” imbuhnya.
إرسال تعليق