Find Us OIn Facebook

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, indeks saham Asia masih mencatatkan angka negatif selama sepekan. Hal itu sebagai imbas rilis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan dan kuartalan China yang di bawah estimasi.
Begitu juga dengan dengan rilis penurunan industrial production tahunan China dan Jepang. “Di sisi lain, rilis naiknya home loans Australia dan retail sales tahunan China belum mampu mengimbangi sentimen negatif tersebut,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan.

Sentimen negatif lain, lanjut dia, juga datang dari langkah pemerintah AS yang memaksa Jepang untuk tidak menjalankan kebijakan mendevaluasi nilai tukar yen. Lalu, ada perkiraan laju kredit perbankan China akan melambat.
Pengaruh negatif juga datang dari penurunan proyeksi pertumbuhan China oleh International Monetary Fund (IMF) dari 8,2% menjadi 8% dan melemahnya harga komoditas. “Di sisi lain, sentimen positif datang dari apresiasi harga saham-saham properti dengan ekspektasi pemerintah China tidak akan mengetatkan kredit properti pascarilis penurunan PDB-nya,” papar dia.
Kemudian, kata Reza, terjadi apresiasi harga saham-saham otomotif dan penerbangan seiring dengan rendahnya harga komoditas, terutama harga minyak mentah. “Begitu pun dengan kenaikan proyeksi pertumbuhan Jepang oleh IMF dengan estimasi adanya stimulus akan mengangkat perekonomian Jepang ke depannya,” tuturnya.
IMF memperkirakan Jepang akan bertumbuh 1,6% tahun ini dari perkiraan sebelumnya 1,2% dan 1,4% di 2014.
Sementara itu, lanjut dia, pasar saham Eropa tercatat negatif selama sepekan meski di akhir pekan kemarin sempat naik tipis. Sentimen negatif yang mempengaruhi antara imbas penurunan laju pertumbuhan GDP China.
Lalu, penurunan harga saham-saham produsen raw-material setelah harga-harga komoditas yang melemah. Begitu juga dengan ketidaksetujuan para petinggi zona euro untuk menangani kreditur gagal. Belum lagi dengan kurang baiknya rilis data-data Jerman dan zona euro.
Kondisi itu diperparah oleh rilis kinerja emiten yang di bawah estimasi dan beredarnya spekulasi akan dipangkasnya rating ekonomi Jerman. Lalu, penurunan penilaian Morgan Stanley terhadap proyeksi harga emas untuk 2013 dan tahun berikutnya.
Perkiraan harga emas diturunkan sebesar 16% menjadi US$1.487 per troy ounce dari prediksi sebelumnya dan proyeksi 2014 turun 15% menjadi US$ 1.563 per troy ounce. Apalagi, unemployment rate Inggris naik sementara rilis penjualan ritel Inggris mengalami penurunan. “Bursa Eropa juga terimbas kurang baiknya beberapa data-data AS,” papar Reza.
Di sisi lain, sejumlah sentimen positif belum dapat mengangkat indeks Eropa. Antara lain, hasil pertemuan Euro Group sebelumnya di mana Portugal dan Irlandia mendapatkan tambahan waktu untuk mencapai target defisitnya.
Rilis kenaikan trade balance Italia; rendahnya producer price index Inggris; dan turunnya yield obligasi Spanyol tenor 10 tahun menjadi 4,89% dari sebelumnya 4,61%.
Bursa saham AS juga mengalami nasib serupa karena masih terjebak negatif selama sepekan. Negatfnya bursa AS dipicu oleh rilis penurunan data NAHB Housing Market Index; NY Empire State Manufacturing Index; dan indeks emiten raw material menambah sentiment negatif.
Sentimen negatif lainnya datang dari turunnya data building permits bulanan dan pemangkasan perkiraan pertumbuhan global oleh The Fed dari 3,5% menjadi 3,2%. Pemangkasan dilakukan setelah rilis pertumbuhan global di 2012 sebesar 3,2%; rilis di bawah estimasi kinerja Bank of America hingga Textron Inc.; dan ekspektasi perlambatan ekonomi global.
Apalagi, dengan rilis kenaikan initial jobless claims; rilis kinerja UnitedHealth Group Inc. hingga Ebay Inc. yang mengecewakan investor di mana pendapatan di bawah estimasi; penurunan CB leading indicator (MoM); dan perlambatan pertumbuhan manufaktur di wilayah Philadelphia.
Bursa saham AS sempat berbalik positif di tengah imbas variatifnya bursa saham Asia dan pelemahan bursa saham Eropa serta adanya anggapan bom di Boston dapat mempengaruhi persepsi investor.
Sentimen positif yang mempengaruhi laju indeks AS antara lain rilis naiknya housing start bulanan, turunnya inflasi, rilis kinerja sebagian besar emiten yang di atas estimasi profit dan estimasi pendapatan, dan naiknya data MBA Mortgage Applications.
“Sebanyak 82 emiten dalam S&P500 yang telah merilis kinerjanya, 74% mampu melampaui estimasi profit dan 49% melampaui perkiraan penjualan,” imbuh Reza.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama