Reza Priyambada, Kepala Riset Trust
Securities mengatakan, indeks saham Asia masih mencatatkan angka negatif
selama sepekan. Hal itu sebagai imbas rilis pertumbuhan Produk Domestik
Bruto (PDB) tahunan dan kuartalan China yang di bawah estimasi.
Begitu juga dengan dengan rilis
penurunan industrial production tahunan China dan Jepang. “Di sisi lain,
rilis naiknya home loans Australia dan retail sales tahunan China belum
mampu mengimbangi sentimen negatif tersebut,” katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan.
Sentimen negatif lain, lanjut dia, juga
datang dari langkah pemerintah AS yang memaksa Jepang untuk tidak
menjalankan kebijakan mendevaluasi nilai tukar yen. Lalu, ada perkiraan
laju kredit perbankan China akan melambat.
Pengaruh negatif juga datang dari
penurunan proyeksi pertumbuhan China oleh International Monetary Fund
(IMF) dari 8,2% menjadi 8% dan melemahnya harga komoditas. “Di sisi
lain, sentimen positif datang dari apresiasi harga saham-saham properti
dengan ekspektasi pemerintah China tidak akan mengetatkan kredit
properti pascarilis penurunan PDB-nya,” papar dia.
Kemudian, kata Reza, terjadi apresiasi
harga saham-saham otomotif dan penerbangan seiring dengan rendahnya
harga komoditas, terutama harga minyak mentah. “Begitu pun dengan
kenaikan proyeksi pertumbuhan Jepang oleh IMF dengan estimasi adanya
stimulus akan mengangkat perekonomian Jepang ke depannya,” tuturnya.
IMF memperkirakan Jepang akan bertumbuh 1,6% tahun ini dari perkiraan sebelumnya 1,2% dan 1,4% di 2014.
Sementara itu, lanjut dia, pasar saham
Eropa tercatat negatif selama sepekan meski di akhir pekan kemarin
sempat naik tipis. Sentimen negatif yang mempengaruhi antara imbas
penurunan laju pertumbuhan GDP China.
Lalu, penurunan harga saham-saham
produsen raw-material setelah harga-harga komoditas yang melemah. Begitu
juga dengan ketidaksetujuan para petinggi zona euro untuk menangani
kreditur gagal. Belum lagi dengan kurang baiknya rilis data-data Jerman
dan zona euro.
Kondisi itu diperparah oleh rilis
kinerja emiten yang di bawah estimasi dan beredarnya spekulasi akan
dipangkasnya rating ekonomi Jerman. Lalu, penurunan penilaian Morgan
Stanley terhadap proyeksi harga emas untuk 2013 dan tahun berikutnya.
Perkiraan harga emas diturunkan sebesar
16% menjadi US$1.487 per troy ounce dari prediksi sebelumnya dan
proyeksi 2014 turun 15% menjadi US$ 1.563 per troy ounce. Apalagi,
unemployment rate Inggris naik sementara rilis penjualan ritel Inggris
mengalami penurunan. “Bursa Eropa juga terimbas kurang baiknya beberapa
data-data AS,” papar Reza.
Di sisi lain, sejumlah sentimen positif
belum dapat mengangkat indeks Eropa. Antara lain, hasil pertemuan Euro
Group sebelumnya di mana Portugal dan Irlandia mendapatkan tambahan
waktu untuk mencapai target defisitnya.
Rilis kenaikan trade balance Italia;
rendahnya producer price index Inggris; dan turunnya yield obligasi
Spanyol tenor 10 tahun menjadi 4,89% dari sebelumnya 4,61%.
Bursa saham AS juga mengalami nasib
serupa karena masih terjebak negatif selama sepekan. Negatfnya bursa AS
dipicu oleh rilis penurunan data NAHB Housing Market Index; NY Empire
State Manufacturing Index; dan indeks emiten raw material menambah
sentiment negatif.
Sentimen negatif lainnya datang dari
turunnya data building permits bulanan dan pemangkasan perkiraan
pertumbuhan global oleh The Fed dari 3,5% menjadi 3,2%. Pemangkasan
dilakukan setelah rilis pertumbuhan global di 2012 sebesar 3,2%; rilis
di bawah estimasi kinerja Bank of America hingga Textron Inc.; dan
ekspektasi perlambatan ekonomi global.
Apalagi, dengan rilis kenaikan initial
jobless claims; rilis kinerja UnitedHealth Group Inc. hingga Ebay Inc.
yang mengecewakan investor di mana pendapatan di bawah estimasi;
penurunan CB leading indicator (MoM); dan perlambatan pertumbuhan
manufaktur di wilayah Philadelphia.
Bursa saham AS sempat berbalik positif
di tengah imbas variatifnya bursa saham Asia dan pelemahan bursa saham
Eropa serta adanya anggapan bom di Boston dapat mempengaruhi persepsi
investor.
Sentimen positif yang mempengaruhi laju
indeks AS antara lain rilis naiknya housing start bulanan, turunnya
inflasi, rilis kinerja sebagian besar emiten yang di atas estimasi
profit dan estimasi pendapatan, dan naiknya data MBA Mortgage
Applications.
“Sebanyak 82 emiten dalam S&P500
yang telah merilis kinerjanya, 74% mampu melampaui estimasi profit dan
49% melampaui perkiraan penjualan,” imbuh Reza.

Posting Komentar